Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Memahami Format Audio

Sewo kuto uwis tak liwati
Sewu ati tak takoni
Nanging kabeh
Podo rangerteni
Lungamu neng endi
Pirang tahun anggonku nggoleki
Seprene durung biso nemoni…

Cuplikan lirik di atas diambil dari “Sewu Kuto” yang dipopulerkan oleh Didi Kempot sekitar tahun 1990-an. Ketika kita mendengarkan lagu semacam itu dari media elektronik, seperti compact disc (CD) atau komputer, kita mungkin berpikir, kok bisa sih suara disimpan sehingga dapat didengarkan di manapun kita berada? Kita akan membahas beberapa format audio yang sering kita gunakan untuk menyimpan lagu favorit kita pada artikel kali ini.

Ilustrasi CD sebagai media penyimpanan lagu yang banyak digunakan pada tahun 90-an. Sumber gambar: digitaltrends.com.

Ilustrasi CD sebagai media penyimpanan lagu yang banyak digunakan pada tahun 90-an. Sumber gambar: digitaltrends.com.

Pada era 90-an, CD merupakan salah satu media penyimpanan suara yang banyak digunakan. Hal ini disebabkan karena suara yang direkam di CD memiliki kualitas yang jauh lebih baik daripada yang direkam menggunakan pita kaset. Mengapa demikian? Sebuah CD dapat menyimpan informasi secara digital dengan cara menerjemahkannya ke dalam data biner (binary digit atau bit), yakni sistem angka berbasis dua. Sebagai contoh, sebuah lagu biasanya terdiri dari 16 bit, kemudian diterjemahkan menjadi 44100 bagian per detiknya.

Saat kita dengarkan lagu melalui speaker, speaker kiri dan kanan akan memperdengarkan bagian yang berbeda. Ini berarti jumlah data yang harus disimpan dalam CD menjadi 44100 sampel/detik ´ 16 bit/sampel ´ 2 = 1411200 bit/detik = 176000 byte/detik. Sebuah lagu biasanya berkisar antara 3 sampai 4 menit, ini berarti satu lagu akan memerlukan media penyimpanan sebesar: 3 menit/lagu ´ 60 detik/menit ´ 176000 byte/detik » 32 juta byte (32 MegaByte, MB). Dalam sebuah CD lazimnya memuat 10 lagu atau lebih, inilah yang membuat kualitas suara dari CD (orisinal) menjadi sangat baik. Akan tetapi, harga CD yang mahal membuat banyak orang berpikir ulang untuk membeli album lagu dalam bentuk CD.

 Ilustrasi kompresi gelombang suara dalam mp3. Sumber gambar: computer.howstuffworks.com.


Ilustrasi kompresi gelombang suara dalam mp3. Sumber gambar: computer.howstuffworks.com.

Saat ini kita mengenal format audio yang paling populer dalam bentuk MP3. MP3 merupakan kependekan dari MPEG-1 Layer 3 dan MPEG sendiri merupakan singkatan dari Moving Pictures Experts Group yaitu sebuah organisasi yang mengembangkan standar untuk kode program audio dan video. Dalam format MP3, sebuah lagu berdurasi 3 menit dapat disimpan dengan hanya membutuhkan 3 MB untuk media penyimpanannya. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Lalu apakah kualitas suaranya tetap terjaga?

Pada dasarnya, MP3 merupakan sebuah sistem kompresi berkas audio yang menggunakan tiga pedoman dasar dalam aplikasinya: (1) telinga manusia hanya dapat menangkap suara dengan kisaran frekuensi tertentu, 20 – 20000 Hz, (2) suara-suara dengan frekuensi tertentu dapat terdengar lebih jelas dibanding suara lainnya, (3) jika ada dua suara yang berbunyi secara bersamaan, telinga manusia lebih peka terhadap suara yang lebih keras, sedangkan suara yang lebih lembut cenderung tidak terdengar. Dengan menggunakan ketiga pedoman ini, kita dapat menghilangkan/mereduksi beberapa bagian dari file audio tanpa mengganggu kualitas suara yang dihasilkan lagu itu sendiri.

Ilustrasi tingkat ketinggian suara yang dapat diterima telinga manusia. Sumber gambar: Wikipedia.

Ilustrasi tingkat ketinggian suara yang dapat diterima telinga manusia. Sumber gambar: Wikipedia.

Pada format MP3, suara-suara yang dihasilkan itu hanya suara yang dapat terdengar oleh telinga manusia sehingga jumlah total data yang harus disimpan dapat dikompresi hingga 10-14 kali lebih kecil dari berkas aslinya yang terdapat dalam CD. Oleh karena itu, lagu dalam format MP3 sering disebut near CD quality. Hal ini juga menyebabkan harga MP3 menjadi jauh lebih murah dari format CD. Pembahasan lebih teknis seputar sistem kompresi MP3 dapat dibaca di rubrik matematika majalah 1000guru edisi Juni 2014.

Itulah sedikit penjelasan mengenai format audio yang sering kita gunakan sehari-hari. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi pemahaman kita mengenai dunia musik digital. Bait terakhir lagu Sewu Kuto menjadi penutup artikel teknologi kali ini.

Senajan sak kedeping moto
Tak nggo tombo kangen jroning dodo

Bahan bacaan:

Penulis:
Fran Kurnia, mahasiswa S3 di University of New South Wales (UNSW), Sydney, Australia.
Kontak: fran.kurnia(at)yahoo(dot)com.