Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Pendidikan Sanitasi Sejak Dini

Secara harfiah istilah sanitasi berarti alat pengumpul atau pembuangan tinja serta air buangan masyarakat secara higienis sehingga tidak membahayakan kesehatan seseorang maupun masyarakat secara keseluruhan (Depledge, 1997). Namun, pengertian tersebut tidaklah populer di kalangan masyarakat. Ketika mendengar kata sanitasi, yang akrab di telinga masyarakat adalah bahwa sanitasi mencakup semua tentang kesehatan lingkungan, baik itu kebersihan lingkungan maupun kebersihan diri, merujuk pada tujuan sanitasi untuk memperbaiki kondisi kesehatan, meningkatkan martabat, dan kualitas hidup, serta perindungan lingkungan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah Indonesia beberapa tahun silam dengan berani mencanangkan Indonesia Sehat 2015, suatu target yang dapat dikatakan sulit, tetapi bukan hal yang tidak mungkin pada saat itu. Program-program yang berbasis sanitasi mulai digencarkan, terutama masyarakat pedesaan yang kerap menjadi sasaran, dimulai dengan pembangunan infrastruktur penunjang seperti MCK, dengan harapan pembangunan tersebut meningkatkan ODF (Open Defication Free) atau bebas dari buang air besar sembarangan. Hanya saja program tersebut harus menemui jalan terjal setelah MCK berakhir dengan “Monumen Cipta Karya” karena nyaris tidak tersentuh oleh masyarakat.

Selain itu, pemerintah pada saat itu harus realistis ketika pada tanggal 30 Oktober 2013 World Bank Water Sanitation Program melakukan konferensi di Jakarta bertema “Menuju Pelayanan Prima Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat Melalui Penguatan Institusi Daerah dan Pelibatan Swasta Lokal”. Dalam konferensi ini diungkapkan bahawa Indonesia menempati urutan ke-2 negara dengan sanitasi terburuk, 63% penduduk masih belum memiliki toilet, BAB (Buang Air Besar) di sungai ataupun di tempat sembarangan lainnya.

Lebih ironis lagi, pada tahun 2014, cakupan pelayanan air minum layak konsumsi Indonesia masih berkisar di angka 70,05%. Artinya, masih menyisakan 29,95% untuk menuju angka 100%. Kenyataan-kenyataan yang mengubur mimpi pemerintah mewujudkan Indonesia sehat 2015. Tahun 2016 ini, setelah waktu menunjukan satu tahun lebih tua dari tahun yang dicanangkan pemerintah, Indonesia tidak juga beranjak dari posisi “sakitnya”. Tidak patah arang, pemerintah kemudian menggeser target tersebut dan meletakannya di tahun 2019. Lantas pertanyaannya sekarang, realistiskah target tersebut? Teknologi apa yang mampu membawa Indonesia meroket menuju Indonesia Sehat 2019?.

Pada tulisan ini akan dibahas dari sudut pandang cakupan sanitasi. Mengapa demikian? Sanitasi merupakan fondasi penting untuk seseorang dikatakan sehat, sehat badannya akan sehat pula jiwanya. Penulis tergelitik ketika mendengarkan salah satu cerita dosen kesehatan lingkungan di kelas, betapa jengkelnya karena kondisi sanitasi Indonesia yang tak kunjung merangkap ke posisi yang seharusnya dibilang layak. Tidak perlu berpikir terlalu jauh, katakanlah mengenai sampah, sudah berapa banyak ahli yang melemparkan suatu sistem dengan harapan mampu mengubah suatu pola pengolahan sampah terbaik diterapkan di Indonesia, bagaimana hasilnya? Tidaklah menggembirakan, sampah masih tetap menjadi momok yang akan menjadi bom waktu, siap meledak kapanpun dan menimpa siapapun.

Apabila kita berpikir sistematis dari hal kecil mengenai sampah, pertama sampah dimulai dari sumber tanpa ada perhatian khusus. Sampah dibuang di suatu tempat pengumpulan yang seadanya dan ala kadarnya, berserakan tertumpuk begitu saja. Air yang kerap dihasilkan oleh sampah meresap ke dalam tanah, bersentuhan dengan air tanah. Air tanah digunakan sebagai sumber kehidupan sehari-hari untuk mandi, mencuci, memasak, dll. Lalu, bersihkah air yang digunakan tersebut? Tentu jawabannya tidak. Alur yang terjadi di atas bukanlah bualan semata, sering terjadi tetapi luput dari kesadaran kita. Tidak hanya sampah, masih banyak hal yang berlabel “sanitasi” yang selalu dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Padahal, dampaknya sudah sangat jelas bersinggungan langsung. Apa solusinya?

 

Pendidikan sanitasi pada anak usia dini

Perubahan pola perilaku, hukumnya wajib dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Yang menjadi menarik di sini dan mungkin luput dari kacamata pemerintah adalah salah satu cara yang layak diuji seharusnya berupa edukasi sejak dini. Apabila tidak dapat mengubah perilaku orang-orang dewasa mengenai bagaimana membuang sampah, bagaimana seharusnya hidup sehat dan bersih, ajarkanlah anak-anak usia dini agar di saat mereka dewasa mereka tidak menjadi generasi yang mewariskan masalah sanitasi ke anak-cucu. Dan harus diingat, anak-anak usia emas yang mudah diprovokasi.

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai edukasi sanitasi sejak dini:

 

  1. Bimbing setelah jajan buang sampah pada tempatnya

Ajarkan anak mulai dari hal yang kecil. Biasakan ketika selesai jajan, bimbing anak untuk membuang kemasannya ke tempat sampah. Bimbinglah, bukan suruhlah mereka untuk membuang. Memberikan contoh akan lebih baik daripada memberikan perintah. Pada usia anak-anak bahkan remaja cenderung berperilaku mencontoh apa yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya. Hal kecil ini apabila diterapkan sejak kecil akan menjadi kebiasaan si anak yang kemudian terbawa hingga dewasa.

 

  1. Mencuci tangan sebelum dan setelah makan

Mencuci tangan merupakan suatu kebiasaan yang memang sudah lumrah dilakukan ketika akan ataupun setelah makan. Namun, tahukah Anda ternyata mencuci tangan merupakan suatu kebiasaan yang sering diabaikan sebagian orang. Termasuk anak-anak, tidak jarang setelah bermain lupa untuk mencuci tangan hingga bersih. Mengapa mencuci tangan itu penting? Sederhananya, tangan yang kotor mengandung kotoran dan bakteri, sehingga ketika tangan digunakan untuk makan bakteri yang berasal dari tangan ikut masuk ke dalam tubuh.

Langkah-langkah mengajarkan mencuci tangan yang benar di antaranya:

  • Berikan penjelasan pada anak tentang pentingnya menjaga kesehatan dengan cara membiasakan cuci tangan sebelum makan atau setelah beraktivitas.
  • Ajarkan cara mencuci tangan yang benar pada anak dimulai dengan membasahi tangan anak sampai pergelangan menggunakan air keran yang mengalir. Penggunaan air mengalir lebih dianjurkan untuk meminimalisir bakteri.
  • Langkah selanjutnya, gunakan sabun. Disarankan untuk menggunakan sabun cair daripada sabun batangan. Sabun bisa membunuh kuman dan bakteri pada tangan dengan cepat.
  • Selanjutnya ajarkan untuk menggosok serta membersihkan telapak tangan, sela-sela jari dan bagian kuku dengan menggunakan sabun.
  • Apabila semua permukaan tangan, sela-sela jari dan kuku sudah dibersihkan secara menyeluruh menggunakan sabun maka langkah selanjutnya basuh tangan menggunakan air sampai bersih.
  • Ketika menutup keran sebaiknya menggunakan tisu atau pembungkus lainnya. Hal ini untuk mencegah kuman menempel kembali pada tangan yang sudah bersih.
  • Keringkan tangan anak menggunakan kain bersih atau tisu.
  1. Ajarkan budaya “Sungai bukan WC umum”

 

Mengajarkan si kecil tentang bahaya buang air besar sembarangan (BABS) tentu sangat penting. Fenomena buang air besar sembarangan ini masih terjadi di beberapa daerah baik yang berbasis pedesaan maupun perkotaan sekalipun. “Sungai Bukan WC umum” adalah salah satu edukasi kepada si kecil jika ingin buang air tentu baiknya di WC.

Beberapa hal di atas merupakan sedikit contoh kecil pola perilaku sehat sanitasi yang dapat ditularkan kepada anak-anak. Harapannya, anak-anak dapat menjadi agent of change dalam menerapkan hidup sehat dan bersih di kehidupan sehari-hari sehingga mampu memunculkan harapan kembali bahwa Indonesia (bisa) Sehat 2019.

Perlu diperhatikan bahwa edukasi sanitasi kepada si kecil bukan berarti membebankan pola hidup bersih hanya untuk anak-anak. Tentu sebagai orang dewasa yang kodratnya sudah bisa menilai mana baik dan buruk tidak boleh kalah dan wajib malu. Anak kecil saja bisa, mengapa kita tidak?

Hal yang tidak kalah pentingnya dari keberhasilan edukasi sanitasi sejak dini ini, tidak lain peran pemerintah itu sendiri yang harus memberikan ruang untuk konsep ini. Lebih bagus apabila pendidikan sanitasi dapat dijadikan kurikulum di sekolah-sekolah.

Bahan bacaan:

Penulis:

Gesit Nurdaksina, Mahasiswa Prodi Rekayasa Infrastruktur Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, Indonesia. Kontak: gnurdaksina(at)gmail(dot)com.