Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Tidur di Ruang Angkasa

Ketika di malam hari kita menempatkan diri di atas kasur untuk beristirahat, ada suatu perasaan nyaman dan tenang melepaskan berbagai kepenatan setelah beraktivitas sehari penuh. Apalagi jika kasur yang ditempati sangat empuk, tarikan gravitasi bisa membuat tubuh kita semakin nyaman terbungkus kelembutan kasur tersebut. Akan tetapi, sekitar 322 kilometer di atas Bumi, para astronot hidup dan bekerja pada gravitasi nol di stasiun luar angkasa internasional (International Space Station, disingkat ISS). Pastinya sangat menarik, gravitasi nol bisa memberikan sensasi pengalaman yang sangat berbeda dalam beristirahat bagi para astronot tersebut.

ISS merupakan stasiun ruang angkasa yang berukuran sangat besar, kira-kira seukuran lapangan sepakbola. Sejak peluncurannya, ISS hingga saat ini memiliki lebih banyak ruang untuk hidup bagi para penghuninya. Setidaknya ada sejumlah kamar tidur bagi para astronot, kamar mandi, bahkan sebuah gym. Di gym tersebut, mereka harus berlatih sekitar dua jam per harinya untuk menghindarkan diri dari efek samping kehidupan di luar angkasa, yaitu kerusakan tulang dan otot.

Sejak dioperasikan pada November 2000, ISS tidak pernah kosong dari aktivitas kru luar angkasa. Pada dekade pertama saja sudah ada sekurangnya 200 orang mengunjungi laboratorium ISS ataupun sekadar berkunjung ke pelabuhan luar angkasanya. Selama itu pula, ada enak orang kru permanen yang tinggal di ISS. Kru tetap ISS boleh tinggal di luar angkasa untuk jangka waktu yang cukup lama. Sebagai contoh, Expedition 34 hidup di luar angkasa selama 144 hari. Rincian kegiatan harian mereka pun sudah dijadwalkan sebelumnya.

Rutinitas harian kru ISS dapat digambarkan secara sederhana sebagai berikut. Pada pukul 6 UTC, para kru mulai bangun, lalu diikuti dengan 90 menit waktu untuk makan pagi serta bersiap-siap melakukan pekerjaan hari itu. Pukul 7:30, kru ISS melakukan panggilan konferensi dengan setiap pusat kendali negara dalam orbit mereka, kemudian mereka melakukan eksperimen ilmiah, perawatan, serta beberapa latihan. Setelah 1 jam beristirahat di jam makan siang, kru ini kembali bekerja dengan pola yang tidak beda jauh seperti di pagi hari. Seluruh aktivitas kerja diselesaikan kira-kira pukul 5:30 atau 6 sore, dilanjutkan makan pada pukul 8 malam hingga akhirnya waktu untuk tidur pada pukul 9:30 malam.

Hal yang sangat diinginkan setelah para kru letih bekerja tentunya adalah istirahat panjang atau tidur malam. Hanya saja, gagasan tentang waktu “malam” bisa berbeda-beda di ISS karena pengorbit akan mengitari Bumi beberapa kali dalam satu hari. Ditambah efek dari gravitasi mikro dan lingkungan tanpa bobot benda, kualitas tidur di ruang angkasa tentu sangat berbeda dengan tidur kita di Bumi.

Bagaimana sebenarnya para astronot bisa tidur di ruang angkasa? Apakah mereka hanya melayang tanpa bisa menggenggam apapun yang membuat badan mereka stabil di bawah? Apakah sulit tidur di ruang angkasa , atau justru gravitasi rendah malah membuat tidur semakin mudah?

Cara Astronot Tidur di Pesawat Ruang Angkasa

Pesawat luar angkasa seperti ISS sebenarnya memiliki kabin termampatkan yang diisi dengan udara yang sama seperti apa yang kita hirup di Bumi sehingga tidak ada masalah untuk pernapasan sehari-hari. Namun, gravitasi mikro membuat astronot merasakan efek tidak ada berat. Menempatkan matras tidur di lantai bukanlah ide yang baik karena bukan hanya mereka yang akan melayang-layang setelah tertidur, tetapi juga matras tersebut ikut melayang. Dengan demikian, pada dasarnya astronot dapat tidur di mana saja di pesawat luar angkasa.

Astronot yang tidur pada waktu pesawat sedang bergerak normal akan mengikatkan dirinya pada kursi atau merekatkan kantung tidur ke dinding pesawat. Mereka menghindari kokpit pesawat karena cahaya dari matahari dapat menyebabkan area tersebut panas mendadak secara cepat dan membuat tidurnya tidak nyaman. Kebanyakan kru ISS memilih tidur di kabinnya masing-masing atau pada modul ISS. Ruangan tersebut memiliki ventilasi yang baik untuk menghindari para kru menghirup kembali karbon dioksida yang baru saja mereka keluarkan dalam proses bernapas.

Para kru juga berusaha untuk tidur pada posisi yang sewajarnya seperti yang bisa mereka lakukan di Bumi, baik itu ketika di kursi yang ditelentangkan, atau pada kantung tidur yang melayang di langit-langit pesawat, maupun menempel di dinding pesawat. Pada kondisi gravitasi mikro, tidak ada yang namanya “atas” maupun “bawah”, yang berarti bahwa tidur di lantai maupun di langit-langit, atau tidur berdiri maupun telentang itu rasanya sama saja. Namun sangat penting untuk menjaga lengan dan kaki agar tidak melayang pada posisi yang berbahaya ketika sedang tidur. Tentunya para astronot memerlukan waktu penyesuaian yang cukup lama untuk bisa tidur nyaman di ruang angkasa. Tubuh dan otak kita sudah terbiasa mengikuti ritme yang ada di Bumi. Tidur pada kondisi seperti di luar angkasa merupakan gangguan tersendiri bagi sistem tubuh kita dan bisa menyebabkan kesusahan tidur.

Para astronot yang sedang tertidur di ISS.

Para astronot yang sedang tertidur di ISS.

Sulitnya Tidur di Ruang Angkasa

Sudah lazim diketahui bahwa seberapa lama dan seberapa berkualitas tidur kita sangat berpengaruh pada semangat dan energi beraktivitas sehari-hari, selain tentunya secara umum berpengaruh pada kondisi kesahatan manusia. Berbagai penyakit bisa muncul sebagai akibat dari tidur yang tidak berkualitas.

Secanggih-canggihnya rancangan pesawat ruang angkasa, banyak sekali kondisi lingkungan yang tidak ideal dihadapi para kru untuk bisa hidup dengan normal. Sebagai contoh, cahaya dan panas dari matahari bisa sangat menyengat. Para astronot akan menutup rapat jendela-jendela yang berada di dekat mereka. Saat tidur, mereka harus mengenakan masker tidur berwarna hitam. Selain itu, bunyi-bunyian yang sangat aneh maupun berisik merupakan bagian tak terhindarkan dari ISS. Bunyi-bunyi bising tersebut muncul dari kombinasi penggunaan kipas, filter udara, serta peralatan lainnya yang menyediakan dukungan kehidupan bagi para astronot. Untuk mengatasinya, para astronot harus mengenakan penutup telinga. Namun pada akhirnya ada juga beberapa yang terbiasa dan tidur begitu saja tanpa penutup telinga tersebut.

Gabungan dari cahaya berlebih, suara bising, serta perasaan tidak alami yang muncul dari badan melayang, sakit kepala, kendali suhu serta ventilasi, semua hal ini dapat mengakibatkan para kru pesawat ruang angkasa menderita insomnia maupun gangguan tidur lainnya. Ini menjadi masalah serius bagi kehidupan manusia di ruang angkasa. Organisasi penerbangan ruang angkasa, NASA, menginformasikan bahwa pil pembantu tidur menjadi obat kedua yang paling sering digunakan astronot setelah pil penghilang rasa sakit. Oleh karena itu, NASA aktif melakukan penelitian untuk meningkatkan kualitas tidur para astronot agar tetap nyaman di luar angkasa. Dari hasil penelitian tersebut, desain pesawat ruang angkasa terus diperbaiki, dan para astronot diberikan pelatihan yang lebih intensif sebagai persiapan menghadapi kehidupan di luar angkasa.

Ilmuwan NASA sedang mencoba alat untuk memonitor fungsi kerja tubuh saat manusia tidur di luar angkasa.

Ilmuwan NASA sedang mencoba alat untuk memonitor fungsi kerja tubuh saat manusia tidur di luar angkasa.

Dari kisah ini, tentu kita harus bersyukur bisa hidup normal di Bumi, bisa  tidur dengan nyenyak, aman dan nyaman. Yakinilah bahwa ketika kita mengeluh kesusahan tidur di suatu malam, masih ada para astronot di luar angkasa sana yang lebih kesulitan lagi, semata-mata karena melakukan penelitian untuk kebaikan umat manusia di masa depan.

Bahan bacaan:

Penulis:
Muhammad Salman Al-Farisi, mahasiswa S1 di Tohoku University, Jepang. Kontak: salman_fareez(at)yahoo.com.