Berbagi pengetahuan, dari mana saja, dari siapa saja, untuk semua

Berkebun di Belahan Bumi Berbeda: Menebar Semangat Berkebun

Penulis ingin berbagi sedikit pengalaman terkait hobi yang digeluti. Salah satu hobi saya adalah berkebun. Sejak kecil keluarga sudah membiasakan anak-anak untuk ikut berkebun walau kami tinggal di perkampungan di kota dengan lahan yang tidak luas. Nenek buyut saya selalu berpesan, “Di mana pun kita tinggal, jangan lupa menanam pohon apa saja.” Itu adalah pesan yang tak pernah saya lupakan dan akan terus saya tularkan kepada anak-anak saya dan siapa pun generasi penerus di tanah air.

Dulu saya hanya melihat pesan nenek buyut itu sebagai pesan orang tua yang tidak serius karena zaman saya kecil hampir semua orang menanam pohon di rumahnya, setiap keluarga masih punya halaman walau tak luas. Namun sekarang dengan makin banyaknya kendaraan bermotor, sementara dengan jumlah penduduk yang makin meningkat tajam rumah-rumah makin tak memilikihalaman. Masih untung kalau mau menanam tanaman dengan pot di masing-masing rumah saat ini, mengingat demikian beratnya pencemaran udara akibat membludaknya jumlah kendaraan bermotor.

Satu hal yang saya teladani dari pesan nenek buyut tersebut, apa pun tanaman yang kita tanam, di mana pun kita tinggal, baik sementara atau menetap (kontrak rumah atau milik sendiri), harusnya tak ada bedanya. Artinya apa saja bisa kita tanam, masalah siapa yang akan memetik hasil dari tanaman tersebut tampaknya tidak penting, tinggal keikhlasan dan kepedulian kita terhadap pengurangan pencemaran udara dengan tanaman yang kita tanam.

Sering tidak kita sadari, tanaman yang kita tanam seiring dengan waktu berjalan, asalkan kita sirami pasti akan tumbuh dengan baik, menyaring udara kotor yang ada di sekitar kita. Walau mungkin kita belum sempat memetik buah atau menikmati bunganya karena kita keburu pindah mengontrak rumah lain misalnya, namun sesungguhnya sudah ada hasil yang kita peroleh jika kita sadari, yakni penyaring udara yang bermanfaat bagi kita sekeluarga. Coba bandingkan dengan jika kita tak pernah menanam tanaman sama sekali. Apalagi jika itu sudah di rumah milik sendiri, sayang sekali jika kita tak menanam tanaman. Keuntungan berganda tentu kita dapatkan, selain buah atau bunga yang bisa kita nikmati, udara bersih juga kita panen, belum lagi air bersih yang disimpan tumbuh-tumbuhan yang kita tanam tersebut.

Setelah mengalami hidup di belahan bumi yang berbeda dengan tanah air kita yang terletak di negara tropis, saya semakin mensyukuri kehidupan di tanah air kita. Di tanah air kita, dengan mudahnya kita bisa menanam apa saja, cukup dilempar atau dibenamkan di tanah saja tumbuhan akan tumbuh subur, karena air dan tanah tak menjadi masalah.

Limpahan air ditambah tanah yang subur sungguh sayang jika tidak kita tanami dengan apa saja, mulai sayuran yang kita butuhkan sehari-hari (yang semakin hari melambung harganya), bunga-bunga yang menebarkan aroma semerbak serta warna-warni yang membuat mata dan hati kita nyaman, tanaman obat-obatan yang sangat kaya dan bisa digunakan untuk penyakit-penyakit tidak gawat serta beraneka tanaman buah tropis yang memberikan banyak manfaat dengan kandungan antioksidan, vitamin serta pendongkrak imunitas tubuh yang alami. Sungguh ingin saya sebarkan virus berkebun ini walau hanya dengan menggunakan pot atau wadah bekas cat atau ember, mengingat betapa besarnya manfaat dengan kita menanam tumbuhan di lingkungan rumah kita.

Anak-anak dididik semangat berkebun sejak dini.

Anak-anak dididik semangat berkebun sejak dini.

Berkebun di belahan bumi selatan (Australia)

Saya pernah menempuh studi di Australia. Pertama kali yang menarik hati saya adalah hobi para penduduk Victoria untuk berkebun. Bersyukur sekali di negara bagian Victoria ini aktivitas berkebun ada di mana-mana, di rumah-rumah penduduk, di tempat-tempat umum seperti community garden di tiap city (bukan kota, tapi kecamatan kalau di Indonesia), sekolah-sekolah dari tingkat dasar hingga universitas. Tampak sekali kemeriahan dan semangat berkebun yang tinggi di Victoria ini. Rumah-rumah di sana hampir semua punya front dan backyard.

Biasanya di frontyard ditanami pohon buah-buahan dan bunga. Pohon nectarine, plum, apricot, plum cherry bercampur dengan tanaman asli Australia seperti berbagai macam eucalyptus atau gum tree mewarnai frontyard. Tanaman-tanaman ini memiliki bunga yang masif sehingga menarik burung Rosella yang indah berwarna-warni untuk datang serta lebah. Beberapa rumah sengaja menyediakan kolam kecil atau sekedar tempat air agar burung mau datang, juga katak ke kolam. Sementara di backyard, bersama dengan tiang jemuran yang berputar jika angin bertiup, selalu ada kebun sayuran. Dengan bedengan sayuran ditanam secara beraturan, biasanya yang ditanam sesuai dengan musim.

Ada banyak kebun bibit, web online, serta komunitas yang menyediakan konsultasi serta informasi berkebun. Mulai dari sayuran, bunga-bunga andalan seperti anggrek, begonia, kaktus, tulip dan bunga berumbi lainnya hingga pohon buah-buahan. Suhu dingin di Australia khususnya Victoria lebih dingin dibanding negara bagian lain karena letaknya yang lebih selatan, tanaman mangga dan pisang tak akan bisa berbuah dengan baik. Jika ada yang menanam pasti harus rela memberi perlakuan khusus seperti menyelimuti tanaman dengan tenda plastik agar tidak mati dengan suhu yang sangat dingin.

Suhu dingin ini ada juga keuntungannya karena cocok untuk tulip, hyacinth, begonia berbunga seperti mawar serta umbi-umbian lain yang hanya bagus di suhu dingin. Biasanya saat mau ditanam, umbi-umbian tersebut ditempatkan dalam pendingin hingga winter (musim dingin), ditanam saat winter dan akan mekar saat spring (musim semi). Saya punya pengalaman lucu, saat saya menyimpan umbi-umbi tulip di kulkas yang akan saya tanam saat winter. Salah satu housemate saya hampir saja mengiris-iris umbi-umbi tersebut karena dikira bawang, untung sempat saya lihat sehingga tulip saya selamat. Dari satu hal ini saja ada perlakuan khusus yang dibutuhkan untuk berkebun di Victoria, namun antusiasme menanam bunga tak surut.

Selain itu, tanah dan air di Victoria adalah problem utama. Tanahnya sangat keras, sulit tertembus air. Makanya untuk berkebun bunga dan sayuran serta buah-buahan, kita harus membeli tanah khusus di kebun bibit. Tanah ini adalah campuran tanah humus dan kotoran sapi, tanpa tanah ini tumbuhan dijamin tidak tumbuh. Selain itu masih harus diberi wetter berbentuk serbuk atau pellet yang dijual di kebun bibit juga, untuk meningkatkan absorpsi air ke dalam tanah. Untuk pohon biasanya ditanam semacam tabung sebagai jalan air masuk ke akar.

Musim dingin di Australia sangat basah sementara musim panas sangat panas sehingga menyiram tanaman di musim panas harus dilakukan. Oleh karena persediaan air bersih di Victoria dan negara bagian lainnya di Australia menjadi masalah serius, pemerintah menggalakkan penggunaan grey water. Grey water adalah air limbah cuci piring dan mandi, yang bisa dimanfaatkan selain untuk flush toilet juga untuk menyiram tanaman karena sabun cuci piring, sabun mandi dan produk-produk pembersih di Australia memang dirancang ramah lingkungan (biodegradable).

Pemerintah juga mendorong dan memberikan dukungan dana untuk keluarga-keluarga yang mau memasang instalasi penampung air hujan. Air hujan ini digunakan untuk kebun. Oleh karena masalah tanah dan air adalah hal yang pokok di Australia, marak dilakukan workshop tentang sustainable gardening. Pernah saya mengikuti kursus tersebut, dipandu oleh seorang gardener terkenal yang sering tampil di TV dan memiliki program menyiarkan trik-trik berkebun serta mengulas community garden.

Materi yang disampaikan dalam workshop adalah sustainable garden for future, antara lain memberikan kursus mulai dari pengolahan tanah, membuat kompos hingga memanen air hujan, dan membuat bibit sendiri. Acara ini gratis bagi siapa saja yang minat di salah satu city council. Bersama 100an orang saya berkesempatan ikut, sebagian besar peserta para lanjut usia yang berdarah Eropa. Sementara di kampus Monash, ada komunitas mahasiswa peminat community gardening, melibatkan siapa saja yang minat berkebun setiap Kamis siang jam 2 sampai sore hari, terbuka bagi siapa saja mahasiswa sarjana hingga pascasarjana, dari mulai merancang kebun, membuat bedeng, kompos hingga membibitkan sayuran.

Community garden menjadi tempat bersosialisasi mahasiswa dari segala bangsa. Pernah di SD anak saya, saya diminta untuk mengajar murid kelas 3-6 dalam mata pelajaran berkebun. Bersama salah satu guru, saya mengajar di kebun sekolah yang kami namai multicultural garden mengingat para siswa sekolah di Clayton North PS memang berasal dari segala bangsa dan mereka semua berkontribusi dari mulai menyumbang bibit berupa biji/pohon, mengolah tanah, membuat bedeng hingga memanen dan memasak hasil kebun.

Setiap Selasa dari jam 9 hingga jam 3 kami di garden mengajar dan mengerjakan banyak hal di community garden. Beberapa kali hasil panen dijual kepada orang tua siswa dan dimasak sendiri oleh siswa dalam program healthy life. Saya rasakan semangat berkebun ini sangat hidup di Victoria, jika dibandingkan dengan negara bagian lain. Pernah saya sengaja jalan di negara bagian lain sambil mengamati rumah dan kebunnya, ternyata tak sebagus dan terarah seperti di Victoria.

Di Victoria juga selalu meriah oleh pameran komunitas seperty cymbidium orchid, rose, begonia, native orchid serta Melbourne Flower and garden Show. Setiap bulan ada pameran serta workshop orchid di tiap city, siapa saja boleh ikut secara gratis. Saya selalu memanfaatkan acara-acara ini untuk menghilangkan stres. Ditambah kebun bibit tersebar di mana-mana, terbuka walau hanya untuk ngopi sambil melihat-lihat koleksi tanaman yang datang tiap musim bervariasi.

Ibaratnya tiada hari tanpa berkembun di Victoria, winter meriah dengan cherry blossom (sakura) layaknya di Jepang dan persimmon yang bergelantungan di pohon yang tak berdaun, spring dengan tulip serta cherry picking, summer dengan bunga gum tree warna merah, oranye hingga putih semerbak di sepanjang jalan serta bunga matahari, autumn dengan buah fig dan feijoa yang yummy. Sayuran juga mudah tumbuh seperti brokoli, bokchoy, silver bit, chives dan spring onion, bayam Inggris, sorel, dan berbagai kentang.

Berkebun di belahan bumi utara (Amerika)

Saya sungguh bersyukur juga bisa berkesempatan mengunjungi Amerika. Tentu saja kegiatan berkebun tak luput dari pengamatan saya, walau saya hanya mengenyam fall (musim gugur) dan winter di sana, tak sempat mengalami meriahnya spring. Faktor tanah dan air bukan menjadi masalah di sana, maka seharusnya menurut pendapat saya kegiatan berkebun lebih marak. Ternyata saya kecewa karena frontyard di Amerika lebih diwarnai bunga plastik yang ditancapkan di sana-sini.

Saat fall sempat saya amati banyak hydrangea yang berbeda jenis dengan di Australia karena jenis di Amerika bisa berbentuk pohon bukan perdu, dengan bunga yang semarak memenuhi pohon. Juga beberapa rhododendron masih berbunga, walau yang berbunga indah semarak harusnya saat spring dan summer sudah tak muncul. Maka saya bisa membayangkan indahnya spring karena rhododendron banyak ditanam di mana-mana. Fall di Amerika identik dengan bunga aster. Warnanya bervariasi dan bergerombol. Setelah winter datang, barulah saya sadar, mengapa orang Amerika lebih suka menanam kembang plastik di halamannya bukan tanaman bunga lainnya, karena winter yang memang ekstrem, yang bakal membunuh tanaman kecuali cemara, maka cemara dominan juga maple berbagai jenis.

Tanaman buah-buahan belum tentu bisa hidup di semua negara bagian, hanya dari California saja anggur, fig, nectarine, plum serta apricot berasal. Kemudian hanya apel yang bisa ditemukan di tiap negara bagian karena tahan dingin. Memang saya tak sempat berinteraksi secara intensif dengan komunitas pecinta tumbuhan di Amerika, namun setidaknya dengan melihat negara di bagian selatan dan utara maka makin besar rasa syukur kita yang hidup di tanah air yang kata Koes Plus tongkat pun jadi tanaman.

Tunggu apa lagi, kita mulai dari keluarga kita, menanam apa saja yang kita suka. Biji dilempar saja tumbuh apalagi jika kita rawat. Banyak manfaat yang kita ambil dengan berkebun walau di pot atau wadah bekas apa saja.

Penulis:
Ika Puspita Sari, Dosen Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta.
Kontak: ika.puspitasari(at)gmail(dot)com.